Perkenalkan, namaku Dharmanda Azkaria Rochman, tapi teman-temanku akrab menyapaku Dharma. Perjalananku dimulai dari sebuah sekolah dasar di pinggiran Yogyakarta, tepatnya di SDIT Insan Utama dekat kampus UMY. Dari sana, langkahku berlanjut ke sebuah tempat yang membentuk fondasi jiwaku: Pesantren Bin Baz, Piyungan.
Di Bin Baz, aku belajar bahwa disiplin adalah kunci. Menjadi santri bukan sekadar menghafal kitab, tapi tentang menempa mental. Alhamdulillah, aku sempat meraih predikat santri teladan dengan peringkat 3 besar dan dipercaya menjadi imam tetap masjid hingga kelas 1 SMA. Pengalaman memimpin salat di depan ratusan jamaah di usia muda memberiku pelajaran berharga tentang tanggung jawab dan ketenangan.
Memilih Jalan yang Berbeda
Banyak orang bertanya, "Kenapa keluar dari pesantren saat jalurmu sudah begitu 'lurus'?"
Jawabannya sederhana: Aku memiliki kegelisahan untuk mengejar mimpi di bidang yang berbeda. Aku ingin menjadi seorang pengusaha sukses yang melek teknologi. Aku memutuskan untuk mengambil jalur program Islamic Homeschooling di PKBM Tadib Yogyakarta sebagai sarana menuntut ilmuku selanjutnya.
Jujur saja, menjalani sekolah online itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tanpa lonceng pesantren yang mengatur jadwal, musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Dibutuhkan konsistensi tinggi untuk terus belajar, berkembang, sembari tetap menjaga hafalan Al-Qur'an dan memurojaah ilmu agama yang telah kutanam sejak di pondok. Bagiku, keluar dari pondok bukan berarti keluar dari ketaatan. Hingga saat ini, aku masih terus berupaya aktif menjadi imam dan dai muda di lingkunganku.
Mimpi Menjadi Perantara Rezeki
Mimpiku besar, mungkin terdengar ambisius bagi sebagian orang: Aku ingin menjadi pengusaha kaya raya dengan rezeki yang halal.
Namun, kekayaan bagiku bukanlah soal angka di rekening. Aku ingin menjadi perantara rezeki bagi orang lain. Aku ingin tanganku menjadi saluran bagi sedekah-sedekah yang luas. Aku ingin membuktikan bahwa dengan akhlak yang mulia, seseorang bisa menjadi jembatan kebaikan, baik dalam urusan agama maupun ekonomi.
"Aku ingin membuktikan bahwa Gen Z bukan generasi yang lembek. Sukses itu tidak memandang usia, dan aku menargetkan masa 20-an sebagai gerbang pencapaian terbesarku."
Tujuan akhirnya? Tentu bukan dunia semata. Aku ingin melihat senyum bangga di wajah orang tuaku. Lebih dari itu, aku berharap keberhasilanku bisa menjadi wasilah (perantara) untuk membawa mereka menuju surga-Nya.
Pesan untuk Teman-Teman Seperjuangan
Untuk kalian, teman-temanku yang masih berjuang di Pondok Pesantren Bin Baz atau di mana pun kalian menuntut ilmu:
Tetaplah teguh. Ilmu yang kalian pelajari saat ini adalah cahaya yang tidak akan pernah padam. Jangan pernah merasa tertinggal, karena setiap orang punya 'medan jihad' masing-masing.
Dan untuk teman-temanku yang sedang berjuang membangun konsistensi di luar jalur formal:
Jangan biarkan kebebasan membuatmu lalai. Sukses itu diraih dengan ilmu dan kekonsistenan, bukan sekadar keberuntungan. Dunia berubah cepat dengan teknologi, tapi prinsip agama harus tetap menjadi jangkar kita. Mari kita buktikan pada dunia bahwa anak muda bisa sukses di usia dini tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba Allah.